“Kalau pabrik yang mencemari ini tidak ada izinnya, ya ditutup,” kata Rudy kepada wartawan di Kelurahan Pucangsawit, Jebres, Kamis (18/10).

Dalam sidak kemarin, diketahui bahwa pemilik pabrik tidak dapat menunjukkan perizinan terkait pengelolaan limbah. Mereka hanya memiliki izin perdagangan, padahal mereka memproduksi cat.

“Kalaupun itu punya izin, tapi kalau sudah mencemari seperti ini ya akan kita cabut izinnya,” kata dia.

Dia menilai kasus ini termasuk parah. Sebab limbah pabrik cat sangat berbahaya jika dikonsumsi manusia.

“Untung ketahuannya pagi. Kalau malam kan enggak keliatan warna merahnya. Kalau langsung direbus kan membuat masyarakat celaka,” ujarnya.

Dia mengaku telah meminta Dirut PDAM Surakarta melaporkan kasus tersebut agar diproses secara hukum. Dia menyerahkan proses sepenuhnya kepada polisi.

“Harus diproses secara hukum karena membahayakan. Kemarin saya sudah minta untuk lapor polisi,” tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, kondisi air PDAM berwarna merah darah dirasakan warga Banyuanyar, Banjarsari sejak dua pekan lalu. Baru Selasa (16/10) malam PDAM menemukan sumber pencemaran berasal dari pipa limbah pabrik cat yang disambung ke pipa air minum.

Arahan Mabes Polri

Sementara Mabes Polri memberi perhatian khusus terhadap kasus pencemaran limbah cat pada saluran pipa PDAM Solo. Polda Jawa Tengah telah diperintahkan langsung untuk mengambil alih proses hukum.

“Itu (pencemaran) dari pabrik cat yang memang dia ada saluran yang tidak standar. Saat ini saya sudah perintahkan Dirkrimsus Polda Jawa Tengah untuk langsung turun,” kata Kabareskrim, Komjen Arief Sulistyanto, di sela acara pengarahan fungsi reserse jajaran Polda DIY, di Grha Sarina Vidi Jalan Magelang Km 9, Sleman, Kamis (18/10).

“Penanganan di-take over oleh Polda Jawa Tengah,” tandasnya.

Diketahui, selama dua pekan terakhir warga Banyuanyar, Banjarsari, Solo mendapati air PDAM berubah warna menjadi merah darah. Setelah ditelusuri, sumber masalah diketahui berasal dari limbah pabrik cat.

“Itu ada di Banyuanyar, hampir masuk ke wilayah rumah Pak Jokowi. Kita sudah antisipasi dengan memotong pipa yang mengalir air warna merah,” kata Humas PDAM Surakarta, Bayu Tunggul saat dihubungi detikcom, Rabu (17/10).

PDAM bersama kepolisian, DLH, DPRD dan Satpol PP mendatangi pabrik cat itu untuk memeriksa mulai dari perizinan hingga aliran limbah.

Waktu diperiksa perizinannya, Kasi Pengaduan dan Penyelesaian Sengketa DLH Surakarta, Dyah Winarti mengungkapkan pabrik bernama PT Mahkota Citra Lestari itu hanya dapat menunjukkan izin perdagangan (SIUP) dan izin gangguan. Sedangkan mereka tidak memiliki izin terkait pengelolaan limbah.

“Waktu ditanya tidak dapat menunjukkan izin, hanya izin perdagangan. Tapi kok sudah beroperasi, ya melanggar,” kata Dyah Winarti. (mb/detik)