portaljnews, Makassar – Sebanyak 1.609 orang pengungsi korban gempa asal Sulawesi Tengah tiba di Pelabuhan Makassar, sekitar pukul 18.00 Wita, Kamis (4/10).

Mereka diberangkatkan menggunakan Kapal KRI Makassar 509 dari Pelabuhan Pantoloan Palu, Sulawesi Tengah, Rabu 3 Oktober 2018 sekitar pukul 12.00 Wita, Rabu, 3 Oktober 2018.

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani mengatakan berkaitan dengan kedatangan para pengungsi maka digelar rapat koordinasi dalam rangka kesiapan dan antisipasi kedatangan korban gempa.

“Tadi kita gelar rapat koordinasi di Ruang Rapat Kantor Otoritas Pelabuhan Makassar sekitar pukul 16.00 Wita sore. Rapat terkait kedatangan korban bencana alam yang terjadi di Palu,” kata Dicky kepada Okezone Rabu (3/10).

Dicky menyebutkan bahwa pengungsi yang akan tiba dari palu ke Makassar akan disiapkan armada untuk para pengungsi 30 unit bus dari berbagai instansi terkait dan akan di angkut menuju tempat penampungan di asrama haji sudiang Makassar.

“Yang akan tiba sebanyak 1.609 orang. Diantaranya terdapat 9 orang yang sakit dan 2 orang melahirkan di atas kapal saat menuju ke Makassar,” terang Dicky.

Selain itu, dalam rapat juga dibahas mengenai persiapan logistik makanan dan minuman siap saji untuk para pengungsi yang akan tiba di Makassar.

“Nanti pada saat kapal KRI Makassar 509 sandar di Pelabuhan Makassar kita juga siapkan makanan siap saji,” kata Dicky

Sementara pemerintah Provinsi Sulsel juga telah menyiapkan 10 bus damri dan 8 bus dari Pemerintah Kota Makassar. Selanjutnya, 8 unit mobil ambulance disiapkan untuk mengangkut para pengungsi korban luka-luka ke rumah sakit yang telah disiapkan di Makassar.

Posko Penampungan Siapkan Sekolah

Anak-anak korban gempa dan tsunami yang menerjang Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), yang diungsikan ke di kompleks SD dan TK Panrita milik Yayasan Akar Panrita di Kecamatan Manggala, Makassar, akan mendapat pendidikan.

Ketua Yayasan Akar Panrita Ahmad Hidayat mengatakan anak-anak ini rencananya bakal ditampung hingga mereka siap untuk pulang ke kampung halamannya.

“Dengan catatan mereka dipastikan tidak terlantar di sana. Untuk anak-anak yang belum ketemu orang tua, kita terus komunikasi dengan orang-orang di Palu,” kata Hidayat kepada Okezone Rabu (3/10).

Kebetulan, kata Hidayat, di posko ini ada ketua regu pengungsi yang kenal dengan para orang tua mereka. Olehnya itu anak-anak korban gempa dipastikan tidak hanya tinggal diam di posko ini.

Yayasan bakal mengikutkan mereka sekolah pada SD dan TK di lokasi pengungsian. Mereka mulai belajar pada Senin pekan depan.

“Karena kebetulan saya mendirikan sekolah di sini, maka kami siap sekaligus menampung anak-anak untuk ikut belajar,” jelas Hidayat

Di posko ini sudah menampung 135 orang, terdiri dari 86 anak beragam usia. Sisanya ibu-ibu dan tiga orang lelaki dewasa. Mereka masuk secara bertahap sejak Senin 1 Oktober.

“Ada sepuluh di antara mereka yang terpisah dan belum bertemu dengan orang tuanya,” tutur Hidayat.

Selain di posko ini, mereka korban gempa Palu ada juga ditempatkan di sejumlah posko pengungsian yang tersebar di dalam kota Makassar. Ahmad menyebutkan, selain itu datang bantuan yang masuk ke posko rata-rata terdiri dari barang kebutuhan para korban.

Antara lain pakaian bekas, bahan makanan siap saji, perlengkapan mandi, dan barang kebutuhan sehari-hari. Sejauh ini, dia menyebut kebutuhan yang mendesak sudah cukup terpenuhi.

“Secara kasat mata, bantuan sangat banyak dan melebihi kapasitas. Tapi kita mesti lihat jangka panjangnya. Karena anak-anak ini tidak mungkin di sini hanya sampai 3-4 bulan,” kata Dia. (mb/okezone)